Siapa yang sangka bahwa minyak kelapa sawit ternyata punya banyak kegunaan dan memiliki banyak produk turunan? Ada yang pernah mendengar bahwa kelapa sawit merupakan bahan yang membuat setengah dari produk yang pernah kita beli di supermarket? Pastinya kita familiar dengan produk turunan dari minyak kelapa sawit, yaitu minyak goreng, mi instan, shampoo, lipstick, coklat dan juga bias untuk bio diesel.

Namun sayang nya harga CPO (Minyak Kelapa Sawit) sempat terkoreksi besar dikarenakan permintaan global serta isu lingkungan yang menjadi momok pada industry kelapa sawit. Beberapa penyebab menjadikan para pemain besar industry kelapa sawit mengalami penurunan laba yang drastic dan signifikan bahkan ada yang merugi akibat penurunan harga CPO.

Naik turun nya laba perusahaan sangat ditentukan oleh harga CPO itu sendiri. Apabila harga naik, para emiten yang masuk dalam industry CPO akan sangat senang seperti mendapat durian runtuh. Dan sebalik nya, di saat harga CPO anjlok seperti tahun 2019 ini, produsen akan menjerit atas kesulitan yang terjadi. Beginilah kehidupan bagi para pengusaha yang bergelut di bisnis komoditas.

Margin yang tergerus juga ikut menggerus harga saham perusahaan sector CPO. Jika kita menilik profitabilitas perusahaan CPO tahun 2019, tahun ini merupakan tahun yang berat bagi perusahaan CPO. LSIP AALI dan SIMP mencatatkan penurunan laba yang siginifikan akibat penurunan harga CPO.

Melihat masalah besar ini, pemerintah Indonesia berinisiasi menjalankan program bio diesel yang rencananya akan mencapai B100, yaitu bahan bakar diesel dengan bahan baku 100% dari minyak kelapa sawit. “Apabila pasar luar negeri sedang membatasi pengunaan minyak kelapa sawit, kami akan pakai sendiri”.

Hal ini diresponi cukup baik oleh pasar dengan rally kenaikkan harga CPO yang sepanjang bulan Oktober, November dan Desember 2019 (hari ini 8 Desember 2019) mencapai 2800 RM/ton. Harga CPO di range ini mirip dengan kondisi pasar CPO pada tahun 2017. Dimana range harga CPO di kisaran 2500-3200 RM/ton.

Apabila harga CPO mampu bertahan di range 2800 ke atas dalam jangka waktu lama, performa emiten CPO diprediksi akan membaik seperti pada tahun 2016-2017 silam.

Sebagai gambaran, emiten AALI pada 9M 2016 mampu menghasilkan laba 1.1T dan 9M 2017 mampu menghasilkan laba sebesar 1.4T sedangkan 9M tahun 2019 ini hanya 111M. Sama hal nya dengan LSIP dan SIMP yang mengalami penurunan laba yang drastic akibat merosot nya harga CPO.

LSIP

Harga LSIP tahun 2016-2017 berada di kisaran 1400-1900. Apabila break level 1500, akan mencoba test resistence di kisaran 1700, extension berikutnya di level 1900.

AALI

Apabila break level 14000, akan mencoba test resistence di 17.000

SIMP

Saham SIMP berada dalam fase kondolidasi selama 6 bulan dengan resistence di 390. Hal ini menunjukkan harga SIMP sudah mulai stabil sejak fase penurunan pada tahun 2013.

Dengan beberapa katalis yang ada dan kenaikkan harga CPO di bulan Oktober hingga Desember 2019, saham-saham emiten CPO layak untuk kita pertimbangkan dimana harga saham CPO juga telah turun cukup dalam sehingga memiliki risk and reward yang menarik.

Happy Investing!

By: William Prasetyo as a Co-Founder Investor Muda

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

©2020 Investor Muda. All Rights Reserved. Developed by PT Pelopor Ide Kreatif.

Log in with your credentials

Forgot your details?