Dari kecil saya memang terlahir berbeda. Yup, pipi saya yang paling chubby diantara orang tua dan adik saya. Sampai-sampai satpam komplek memanggil saya dengan panggilan “amoy”. Semua orang bilang saya memang suka makan dan memang benar. Bagi saya makanan itu hanya ada 2 jenis, makanan enak dan makanan enak banget. Hingga akhirnya berat badannya naik terus sampai menyentuh angka 90kg. Itu kejadian saat saya duduk di bangku SMP. Dari situ saya meniatkan diri saya untuk menjalani diet.

Perlu waktu kurang lebih 2 tahun untuk saya menyentuh angka 60kg. Proses itu tidaklah mudah dan melalui trials and errors. Saya masih ingat betul pergi ke gyn 2x sehari, mengganti semua makanan saya, menghindari minyak dan gula. Lalu, apakah perjuangan saya sudah selesai? Tentu belum. Next, saya harus bisa mempertahankan berat badan saya.

Kebablasan pasti pernah. Apalagi kalau sudah dihadapkan dengan kue-kue dan es krim. Harus makin kuat tahan diri. Porsi makan saya atur juga. The rule of thumb is ¼ carbohydrate, ¼ protein and ½ vegetables. Ditambah saya menghitung berapa kalori yang saya butuhkan per hari dan membuat track record makanan apa saja yang saya makan dan aktivitas apa saja yang saya lakukan pada hari ini. Pada akhirnya, memang usaha tidak mengecewakan hasil.
Kalau kata Albert Einstein, “Insanity is doing the same thing over and over again and expecting different results.”. Jadi diet saya akan sia-sia kalau saya tidak merubah apa yang saya tau harus diubah.
Mindset dan perilaku ini pun saya bawa saat saya terjun di pasar saham. Pikiran saya diawal adalah kalau saya bisa punya banyak saham yang performanya bagus pasti keuntungan yang saya dapatkan akan lebih banyak. Sempat saya mengoleksi beberapa saham yang menurut saya bagus tapi ujung-ujungnya membuat saya bingung karena terlalu banyak memegang saham. Duh!
Akhirnya saya memutuskan untuk merubah strategi saya. Sama seperti saya mengatur porsi makan saya, porsi saham di portofolio pun juga saya atur. Banyak saham yang saya pegang adalah 3-4 saham, maksimal 5 saham. Dan memang benar, memantau pergerakan saham menjadi lebih ringan dan fokus.
Lalu saya juga mencatat berapa banyak gain and loss yang saya dapat biar makin tertib “diet”nya. Wah, kalau dengar kata-kata “loss” atau disuruh cutloss pasti udah pada takut . “Aduh duit gueee!” atau “Wah ga lagi-lagi deh gue beli saham”. Tenang aja guys, cutloss is not the end of the world. Anggap saja loss itu seperti cheat day, biar dietnya makin semangat.
Jadi, gimana nih? Sudah siap belum merubah “diet”-nya? Selamat mencoba!
By Olivia E. Tjahjadi (Part of Investor Muda)

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

©2019 Investor Muda. All Rights Reserved. Developed by PT Pelopor Ide Kreatif.

Log in with your credentials

Forgot your details?