Written by: William Prasetyo – Co Founder Investor Muda

Bulan Mei seringkali menjadi bulan yang ditakuti bagi para Investor dan trader saham bagi yang pernah merasakan kerasnya trading saham di bulan mei hingga kuartal III. Tapi apakah benar demikian bahwa saham pasti jatuh di bulan Mei? Apakah hal ini merupakan sebuah keharusan agar pasar saham menjadi lebih menarik setelah saham – saham bagus dapat dibeli di harga yang murah?

Mari kita lihat fakta IHSG sewaktu memasuki bulan Mei selama 5 tahun ke belakang.

Nyata nya bulan mei bukanlah bulan yang mengerikan. Tapi memang dimulainya perubahan trend dengan timeframe 1 tahun IHSG. Tidak serta merta bulan Mei pasti harus jatuh dan akan jatuh. Bahkan di tahun 2016 dan 2017, IHSG tidak tergoyahkan karena memiliki trend yang terus menanjak dari awal tahun hingga akhir tahun.

Di tahun 2016 kita menikmati kebijakan tax amnesty yang dikeluarkan Pak Jokowi sebagai salah satu sarana untuk ekspansi dan reformasi infrastruktur di Indonesia. Sejak dikeluarkan Tax Amnesty, IHSG tidak bankrut dan malah berjaya hingga akhir tahun.

Di tahun 2017 yang ditakuti karena tahun sebelumnya IHSG terus menanjak tanpa henti malahan menjadi tahun yang spektakuler bagi pergerakan IHSG. Isu global yang beredar di luar sana yaitu apabila Donald Trump naik sebagai presiden, pasar global akan mengalami turbulensi besar dikarenakan kebijakannya yang tergolong ekstrim dan dapat merusak sistem keuangan global! Namun yang terjadi malah sebaliknya. IHSG terus bergerak positif tanpa kenal lelah hingga akhir tahun.

Penulis juga tidak serta merta mengabaikan bulan Mei yang ditakut-takuti oleh pelaku pasar karena memang tahun 2015 terjadi koreksi besar di IHSG yang dimulai nya perubahan trend tersebut di bulan April-Mei dan menyentuh low nya di bulan April. Dan juga tahun 2018 yang menjadi tahun yang sulit bagi para investor dikarenakan kebijakan The FED yang cenderung hawkish dengan secara bertahap dan segera menaikkan suku bunga acuan nya.

Selama tahun-tahun tersebut, saya sebagai pelaku pasar dan pengajar di pasar saham justru belajar hal – hal menarik salah satu nya tidak menjadi terlalu TAKUT atau terlalu BERANI. Terkadang hal yang kita takutkan tidak terjadi dan hal yang kita sangat yakini juga demikian. Sebagai pelaku pasar saham kita perlu bersikap realistis dan objektif menilai kondisi yang ada dan segera mengambil keputusan yang tepat dan cepat sesuai dengan indikator kita masing-masing.

Ada beberapa indikator yang kita pakai untuk menganalisa dan mengeksekusi beli/jual saham. Namun indikator yang sifat nya statis tentu nya tidak dapat mengalahkan market yang dinamis, perlu unsur manusia/nalar/logika dasar. Sebagai manusia kita juga memiliki kekurangan yaitu dalam hal emosional. Memang sewaktu mengalami depresi baik itu karena kerugian saham / yang lainnya, kita cenderung berkiblat pada emosi saat mengambil keputusan, yang biasanya dilakukan tanpa nalar lagi. Oleh karena itu, agar sukses di pasar modal kita perlu menjadi pribadi dengan personaliti yang OBJEKTIF namun tetap DINAMIS, KONSISTEN dan bukan bersifat KONSTAN.

Sebagai contoh di tahun 2018, ada beberapa saham yang tetap memberikan keuntungan maksimal walaupun kondisi market yang tidak kondusif. Secara return full year tahun 2018, IHSG mengalami return negatif (-) yang tidak terlalu besar. Tapi apabila kita melihat swing high and low IHSG tentu nya kita melihat sebuah gejolak besar pada tahun tersebut.

Dimulai dari bulan februari – mei 2018, IHSG mengalami gejolak yang merontokkan harga-harga saham pada umumnya dan berkonsolidasi pada bulan Juni – Desember 2018.

Jika kita mengerti pola yang terjadi di pasar, sewaktu IHSG mulai menunjukkan pola downtrend kita dapat melakukan switching aset kita pada (1) saham yang memiliki korelasi rendah dengan IHSG atau second liner. Dan jika kita ingin aset yang aman terlebih dahulu yaitu pada (2) instrumen pasar uang. Namun tetap saja, saham selalu memiliki imbal hasil yang jauh lebih besar karena dengan risiko yang lebih pula.

Studi kasus yaitu saham INKP dan TKIM, emiten pulp and paper yang tetap positif sepanjang tahun 2018, selanjutnya ada ERAA yaitu perusahaan distributor atau dikenal dari toko nya ERAFONE. (untuk saham-saham yang terkena economic favor akan kita bahas di artikel selanjutnya).

INKP

ERAA.

Dan juga contohnya adalah saham ANTM yang performance perusahaannya mulai menunjukkan pertumbuhan dan Laba/Rugi yang positif. Saham ANTM memiliki swing yang cukup lebar. Di masa konsolidasinya tahun 2018, ANTM memiliki rentang swing dari kisaran 600-1000 atau hampir 100% (double return). Dan masih ada beberapa lagi yang tidak dapat saya sebutkan sebagai contoh.

ANTM

Sebagai penutup, banyak orang yang takut untuk memulai berinvestasi di saham karena takut mengalami kerugian (mendengar dari cerita teman-teman) karena misal kondisi market tidak baik, ada nya perang dagang (2018-2019) atau berita buruk yang lainnya dan alhasil menunggu sampai semua berita nya adalah berita baik. Namun kenyataan yang ada di pasar saham, sewaktu berita buruk muncul rata-rata saham berada di level rendah/murah dan kebalikannya, saat beritanya kembali menjadi baik, rata-rata saham berada di level tinggi/mahal atau sudah price in. Oleh karena itu, mulai lah terlebih dahulu untuk belajar mengerti bagaimana berinvestasi saham karena takut tidak menyelesaikan masalah, “avoiding failure is to avoid success” dan ingatlah bahwa selalu ada kesempatan dibalik kesulitan. Kita menjadi berarti dan bermanfaat saat menjadi solusi untuk sekitar. Salam Investasi!

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

©2019 Investor Muda. All Rights Reserved. Developed by PT Pelopor Ide Kreatif.

Log in with your credentials

Forgot your details?